
BINJAI, sumut.wartaglobal.id - Silaturahmi dan audiensi Sultan Negeri Langkat, Tuanku Ariefanda Aziz Abdul Djalil Rahmadsyah, bersama Wali Kota Binjai Amir Hamzah, berlangsung penuh keakraban, Senin (24/8/2026).
Pertemuan tersebut membahas sejumlah hal penting terkait sejarah, adat dan kebudayaan Melayu di Kota Binjai, termasuk keterkaitan historis Binjai dengan Kesultanan Negeri Langkat.
Dalam kesempatan tersebut, Sultan Negeri Langkat menyampaikan bahwa Kerapatan Adat Kesultanan Negeri Langkat siap berkolaborasi dengan Pemerintah Kota Binjai untuk membangun tahapan-tahapan kerja sama dalam memajukan dan melestarikan Melayu di Kota Binjai.
Menurut Sultan, sejarah dan identitas Melayu harus terus dirawat dan dihidupkan melalui kerja sama yang nyata, sehingga tidak hanya menjadi bagian dari catatan masa lalu, tetapi tetap menjadi bagian dari kehidupan masyarakat hari ini dan generasi yang akan datang.
“Mulai sekarang, Pak Amir Hamzah, Wali Kota Binjai, adalah bagian dari keluarga besar Kesultanan Negeri Langkat. Mari kita bersama-sama menjaga, merawat dan membesarkan Melayu di Kota Binjai,” ujar Sultan Negeri Langkat Tuanku Ariefanda Aziz Abdul Djalil Rahmadsyah.
Wali Kota Binjai Amir Hamzah menyambut baik semangat tersebut. Ia menyampaikan kebanggaannya sebagai orang Melayu yang lahir dan besar di Binjai.
“Saya ini orang Melayu, lahir dan besar di Binjai. Saya bangga menjadi kepala daerah dan menjadi orang Melayu. Karena itu, siapa yang akan membesarkan Melayu kalau bukan kita. Mari kita saling berkolaborasi, bagaimana Melayu ini terus kita jaga, kita lestarikan dan kita besarkan di Kota Binjai.”
Wali Kota juga menceritakan bahwa ayahnya lahir di Bukit Chandan, Kerajaan Perak. Ketika rombongan Istana Maimun berkunjung ke Kerajaan Perak dan kemudian kembali ke Deli, ayahnya turut mendampingi rombongan tersebut. Setelah tiba di Deli, beliau kemudian menetap di lingkungan Istana Maimun dan menjadi polisi kerajaan.
Sebagai salah satu bentuk pelestarian identitas Melayu, Wali Kota menyampaikan akan menginstruksikan jajaran Pemerintah Kota Binjai untuk mengenakan pakaian Melayu setiap pekan pada hari Kamis.
Audiensi juga membahas mengenai aset dan warisan Kesultanan Negeri Langkat, termasuk Masjid Raya Binjai yang secara historis merupakan bagian dari warisan Kerajaan Melayu Langkat.
Kerapatan Adat Kesultanan Negeri Langkat menyampaikan apresiasi terhadap perhatian Pemerintah Kota Binjai dalam menjaga Masjid Raya Binjai, sekaligus menyampaikan harapan agar hak kenaziran masjid tersebut dapat dikembalikan kepada lembaga Kerapatan Adat Kesultanan Negeri Langkat, sebagaimana masjid-masjid raya lainnya yang memiliki keterkaitan dengan Kesultanan Negeri Langkat.
Menanggapi hal tersebut, Wali Kota Binjai menyampaikan akan terlebih dahulu mempelajari status hukum Masjid Raya Binjai dan berkoordinasi dengan pihak-pihak terkait.
Audiensi turut dihadiri Ketua Umum Syarikat Masyarakat Adat Melayu Tengku Arief Fadillah, Ketua Umum Himpunan Advokat Melayu Bersatu Ariefani, mantan Kepala Kesbangpol Kota Binjai sekaligus sahabat lama Wali Kota Tengku Syarifudin, Ketua Ikatan Zuriat Kesultanan dan Masyarakat Adat Melayu Tengku Zulkifli Hamzah, pengurus Fosil BKMI, serta jajaran Kerapatan Adat Kesultanan Negeri Langkat.
Kepala Dinas Pariwisata Kota Binjai juga menyatakan kesiapan untuk berkolaborasi bersama Syarikat Masyarakat Adat Melayu dan Kerapatan Adat Kesultanan Negeri Langkat dalam menghadirkan berbagai kegiatan Melayu di Kota Binjai.
Sejarah dirawat, adat dijunjung, budaya dihidupkan.
Melayu bukan sekadar warisan masa lalu, tetapi identitas yang harus terus dijaga dan diwariskan kepada generasi mendatang.
(F5/Tim)




.jpg)